Acara Umpoya Angin dan Mangrambu Tampak Beluak

toraja culture

Acara Umpoya Angin (Umpoya = menjerat/mengikat, Angin = Angin) dan Mangrambu Tampak Beluak (mangrambu = mengasapi, tampak = ujung, beluak = rambut) adalah suatu cara pemakaman menurut Aluk Todolo yang tidak memakamkan mayat yang sesungguhnya namun hanya memakamkan benda yang diyakini adalah mayat seperti ujung rambut dan ujung kuku dari orang yang meninggal yang tidak diketahui tempatnya atau mayatnya tidak dapat ditemukan.

Menurut Aluk Todolo setiap orang yang meninggal harus diupacarakan kematiannya atau pemakamannya agar supaya arwahnya dapat diterima sebagai arwah yang baik di alam baka serta dapat juga memperhatikan kehidupan dari turunannya sehingga orang yang meninggal dan mayatnya tidak dapat ditemukan atau tidak diketahui keberadaannya tetap harus diupacarakan kematiannya itu dengan cara yang sudah ditentukan walaupun jenazahnya tidak ada. dalam hal ini dapat dilakukan dengan : 

1. DIPOYAN ANGIN

Dipoyan Angin yaitu jika seseorang yang meninggal mayatnya tidak dapat  ditemukan atau tidak dapat diambil Ujung rambut dan ujung kukunya, terutama bagi yang meninggal di laut, sungai, dihutan atau ditempat lain yang tidak diketahui tempatnya namun karena tetap harus diupacarakan kematiannya maka kematiannya itu akan diupacarakan dengan upacara yang dinamakan Dipoyan Angin (dijeratkan/ditangkapkan angin) yaitu seluruh keluarga dari orang yang meninggal itu pergi ke puncak gunung dengan membawa sebuah sarung yang baru dengan maksud akan menangkap angin dengan sarung tersebut dimana salah satu ujung dari sarung tersebut diikat sehingga akan sarung akan menggelembung. lalu setelah itu perempuan - perempuan yang ikut akan menangisi sarung tersebut lalu laki - laki akan mengikat ujung yang satunya sehingga angin akan tinggal beberapa lama didalam sarung tersebut yang menurut keyakinan Aluk Todolo bahwa angin itu adalah nyawa atau roh dari yang meninggal telah masuk kedalam sarung tersebut.

Sesudah acara Dipoyan Angin ini maka semua orang akan kembali dengan membawa sarung tadi yang dianggap sebagai mayat kemudian dibungkus dengan kain dan dimasukkan semacam gabus lalu dibungkus seperti membungkus mayat sesungguhnya. dan selanjutnya Upacara pemakaman dipersiapkan dengan mengikuti tingkatan Kastanya. 

Tetapi pada umumnya Upacara Mayat Dipoyan Angin ini dilakukan hanya dengan Upacara Dipasang Bongi akan tetapai kurban kerbaunya biasanya lebih dari satu Ekor kerbau. dan pada proses pemotongan kurban kerbaunya, harus ada 1 (satu)  ekor kerbau yang tidak dikuliti tetapi harus diiris bersama dengan kulitnya (Balulangnya). dan pada saat Penghulu / Tominaa mengucapkan mantra pemakaman diatas menara daging yang dinamakan Bala'kayan, harus mengungkapkan kesetiaan dari keluarganya serta kematian dari yang meninggal itu. agar arwahnya dapat diterima dengan wajar dialam baka.

Pada beberapa daerah adat Upacara ini ada beberapa perbedaan namun tujuannya secara keseluruhan tetap sama. dan semua daerah adat melakukan Upacara ini.

2. Mangrambu Tampak Beluak

Mangrambu Tampak Beluak yaitu cara pemakaman untuk orang yang meninggal diluar dari tanah kelahirannya dan mayatnya dikubur ditempat lain yang jauh, sehingga ujung rambut dan ujung kukunya diambil lalu dibungkus menggunakan pakaiannya kemudian bungkusan itu dikirim ke keluarganya untuk di Upacarakan Pemakamannya namun mayatnya dikubur saja ditempat dia meninggal secara biasa.

Upacara pemakaman dengan hanya memakamkan ujung rambut dan ujung kuku ini dilakukan tetap sesuai dengan Upacara pemakaman pada umumnya karena bungkusan ujung rambut dan ujung kuku tersebut adalah bagian dari jenazah yang meninggal. namun terkadang keluarganya langsung datang untuk menggali dan mengambil kerangka dari yang meninggal untuk dibawa ke kampung halamannya untuk dimakamkan dan diupacarakan seperti Upacara pemakaman pada umumnya.

Pada waktu menggali kuburan tersebut dan mengangkat kerangkan orang yang meninggal yang dinamakan Mangkaro Batang Rabuk menurut adatharus diganti dengan mengubur salah satu hewan dengan memotong ayam atau ayam dan kemudian dikubur pada bekas kuburan tersebut.

Dengan memprhatikan Upacara diatas menandakan bahwa setiap orang Toraja harus di Upacarakan kematiannya, walaupun kematiannya tidak dilihat oleh keluarganya. namun diyakini bahwa arwahnya tidak akan diterima di alam baka secara wajar jika tidak diupacarakan secara wajar pula. 

Post a Comment for "Acara Umpoya Angin dan Mangrambu Tampak Beluak"

Template Blogger Terbaik Rekomendasi